Tadi malam ditemani segelas soda susu, satu mangkuk kecil kacang polong, dan mamam cantik yang berselimut (dan kemudian terlelap), saya menikmati “The Boy Who Harnessed The Wind” di Netflix. Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata tentang seorang anak bernama William Kamkwamba yang berhasil mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin yang kemudian menyelamatkan keluarga dan desanya dari kelaparan.

Dalam satu scene, William dengan bangga menunjukkan proptotype kincir angin kecil yang telah ia kembangkan pada sang Ayah (Trywell Kamkwamba). Kincir kecilnya terbukti mampu menghasilkan listrik (menyalakan radio). William kemudian menyampaikan bahwa dengan kincir angin yang lebih besar, ia bisa menyalakan pompa air yang mengalirkan air dari sumur ke ladang dan menjadi solusi atas masalah kekeringan yang ada. Untuk ia hanya butuh sepeda sang ayah, satu-satunya alat transportasi yang dimiliki keluarga tersebut, untuk kemudian menjadi komponen utama kincir anginnya.Terlepas bukti yang telah diberikan anaknya, sang Ayah menganggap itu semua hal yang tidak mungkin, khayalan anak-anak semata, dan sebuah ide yang gila yang sia-sia. Ia merasa lebih tahu dari anaknya.

Berapa kali kita sebagai orang tua merasa lebih tahu dari anak-anak kita? Merasa lebih mampu? Merasa lebih hebat? Merasa lebih berhak menentukan sesuatu? Untuk saya pribadi, mungkin hampir setiap kali.

Tim Harford dalam TED Talknya memaparkan sebuah konsep “God Complex”, suatu keadaan di mana seseorang karena profesi, kedudukan, atau keilmuannya merasa paling tahu solusi terbaik dan menihilkan upaya untuk melihat opsi lainnya. Padahal apa yang ada disekitar kita sangatlah kompleks, setiap permasalahan mungkin memiliki banyak opsi solusi, sehingga merasa “paling tahu” sesungguhnya sangat beresiko, salah satunya adalah menghilangkan kesempatan untuk menemukan solusi yang terbaik.

Tapi sebagai orang tua, kita kadang begitu bangga untuk merasa paling tahu. Paling tahu soal pendidikan, paling tahu soal budaya, paling tahu soal masa depan. Pokoknya kita merasa paling tahu soal yang terbaik untuk anak-anak kita. Kok bisa? “Karena kita sayang mereka!” adalah jawaban pamungkas kita. Kadang kita lupa, jika kita salah yang menanggung akibatnya bukan kita, melainkan anak-anak kita. Apakah itu definisi sayang kita? Turuti apa kata kami (orang tua), kalau kami salah – tanggung sendiri akibatnya (soalnya kita sudah terlalu lemah untuk bisa membantu, atau bahkan tidak ada)!

Film semalam mengingatkan saya bahwa sebagai orang tua, sebagai pemimpin perusahaan, sebagai seorang game designer, saya sesungguhnya hanya tahu sedikit sekali, masih bodoh. Oleh karena itu ada banyak hal yang harus saya pelajari bersama putri saya, bersama tim saya, bersama anda semua. Bagi saya, bermain adalah proses belajar bersama (yang mungkin paling menyenangkan) dan game adalah medianya. Ada banyak tantangan dan permasalahan yang harus kita selesaikan sama-sama. Bagaimana menjadikan setiap tantangan sebagai ruang untuk kita bisa bermain bersama, menghadirkan karya dan solusi yang bermanfaat mungkin adalah bentuk bangga, sayang, dan cinta sesungguhnya.

Tuan putri, jika kelak adinda baca tulisan ini, pampam pasti masih bodoh, banyak yang pampam belum tahu. Untuk itu jangan bosan temani pampam belajar ya nak!

Leave a Reply