Pagi ini saya memotong tipis bawang merah, bawang putih dan wortel. Tahu Susu Lembang yang tersisa di kulkas kemudian juga dipotong persegi. Satu kaleng kornet saya siapkan terbuka. Semua bahan kemudian saya tumis, ditambah garam dan merica secukupnya. Di ujung meja, rice cooker kecil kami telah memberi tanda, nasi putih hangat telah tersedia.

Memasak dan mendesain game punya banyak persamaan. Setiap memasak, seorang koki memiliki objektif menu apa yang ingin ia suguhkan. Begitu pula seorang game designer. Setiap resep masakan bisa dilihat sebagai sebuah ide gameplay, panduan bagaimana memadukan berbagai bahan dan bumbu untuk mewujudkan menu yang diinginkan. Berbagai aset visual, serta komponen game pendukung adalah bahan yang disiapkan untuk kemudian kita olah sesuai resep. Skor, badge, leader board, serta narasi pendukung dari sebuah game adalah bumbu yang akan memperkuat rasa masakan kita.

Setiap game, sesederhana apapun akan jadi media yang luar biasa ketika disuguhkan pada saat, target, dan cara yang tepat. Seperti halnya nasi, tahu, wortel, dan kornet tumis kami pagi ini. Walau hanya sebuah menu sederhana, menikmatinya ketika lapar, ditemani para tuan putri yang cantik jelita, bertabur senyum dan tawa bahagia, membuat segalanya luar biasa.

Bayangkan jika setiap keluarga, setiap sekolah, setiap perusahaan, bisa memasak game mereka sendiri. Menyuguhkannya pada saat, target, dan cara yang tepat. Kita akan melihat semangat belajar tumbuh di mana-mana. Semangat yang akan membuat Indonesia semakin luar biasa.

1 comment

Leave a Reply