“Jadi caranya gini pam, pampam harus tebak kartu-kartu ini, gambarnya lagi tidur atau lagi bangun. Kita mainnya gantian ya! Kalo salah nanti kita masukin lagi ke bawah. Mainnya tiga kali, nanti yang banyak dapat logo piala ya! Pampam ngerti khan?” Suatu siang di gerbong makan perjalanan Gambir-Bandung tuan putri menjelaskan konsep gamenya.

Saya hanya bisa terpana, bangga, bahagia. Saat itu, saya dan putri saya berbagi sebuah pengalaman (bermain) yang luar biasa.

Dalam sebuah laporan khusus yang diterbitkan pada 2016 lalu, World Economic Forum memberikan rekomendasi terkait pendekatan pembelajaran berbasis bermain (Play/Game-based learning) untuk membantu proses pembelajaran berbagai kemampuan yang dibutuhkan di abad 21 (21 century skills).

Dalam laporan lainnya di 2018 kemarin, Accenture (sebuah konsultan internasional) membahas pergeseran konsep pembelajaran, salah satu rekomendasinya adalah untuk percepatan/perbanyakan berbagai bentuk experiential learning atau proses pembelajarannya dengan merasakan/melakukan langsung. Game-based learning, atau pembelajaran berbasis game merupakan salah satu bentuk dari experiential learning ini. 

Apa kemudian hubungannya semua ini untuk kita orang tua/guru?

Dalam konteks di atas, pada dasarnya setiap kegiatan bermain (game) yang kita hadirkan di tengah keluarga sebenarnya bisa menjadi sebuah sesi experiential learning yang menarik. Sayangnya, sebuah experiential learning bisa sukses ketika kita mau saling berbagi experience (pengalaman) atau setidaknya mau mengapresiasi experience yang dirasakan oleh pemain lain. Ini yang mungkin jadi masalah, karena sebagian besar dari kita (saya salah satunya), ntah kenapa tampaknya sulit melakukan hal ini dengan anak-anak kita.

Ketika anak-anak kita masih kecil, game mereka mungkin terlalu konyol atau mudah untuk kita sehingga kita malas memainkannya dengan mereka. Kita lupa, bahwa game yang mungkin kita anggap konyol, adalah sesuatu yang sangat menantang atau menyenangkan untuk mereka. Sebaliknya ketika anak-anak kita dewasa, game mereka terlalu kompleks untuk kita dan kita beralasan waktu kita terlalu berharga untuk mempelajarinya. Keengganan kita untuk sungguh-sungguh terlibat bermain dengan mereka, mungkin adalah sinyal ketidak mampuan kita untuk menghargai berbagai pengalaman yang mereka miliki atau bahkan menghargai mereka sebagai individu yang utuh. Hal ini mungkin yang salah satu penyebab, semakin anak-anak kita dewasa, mereka semakin enggan berbagi cerita (pengalamannya) dengan kita.

Bermain game, mungkin adalah sebuah proses latihan paling menyenangkan untuk kita (orang tua/guru) bisa belajar menghargai anak-anak kita, apa yang mereka pahami, dan apa yang mereka rasakan sepenuhnya. Yang kita perlukan mungkin hanyalah kesungguhan untuk mencoba. Jika hal itu masih terlalu sulit, mungkin bisa kita mulai dengan hadirkan senyum dan tanya: “sudah main apa saja hari ini?”

________________________
Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan di Boardgame.ID. Boardgame.ID adalah media online terlengkap yang fokus memperomosikan boardgame Indonesia sekaligus potensi game untuk pembelajaran/keluarga.

Leave a Reply