Game-Based Learning? Pembelajaran berbasis game? Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, apakah mungkin? Mimpi mbok jangan ketinggian mas!

… begins with an empty board, where Black has 361 possible opening moves, one at every intersection of the 19 by 19 grid. White can follow with 360 moves. That makes for 129,960 possible board positions after just the first round of moves.

“Go” diciptakan sekitar 2500 tahun lalu di Cina. Satu masa dimana masyarakat Cina percaya ada 4 keahlian penting untuk bisa menjadi pejabat negara (four arts if the Chinese scholar): Qin (music), Qi (boardgame Go), Shu (kaligrafi) , Hua (melukis). Kemampuan bermain Go menjadi penting – karena menggambarkan kemampuan berpikir strategis, kemampuan menganalisa, juga pengambilan keputusan yang baik. Kemampuan yang diperlukan untuk menjadi seorang pejabat negara.

Sekitar abad 19 kerajaan Prusia (area Jerman saat ini) mengadopsi “Kriegsspiel” atau “war game” untuk melatih para perwira mereka memahami berbagai taktik dan teori peperangan yang kompleks dengan lebih baik.

https://militaryhistorynow.com/2019/04/19/kriegsspiel-how-a-19th-century-war-game-changed-history/

Disekitar tahun 1902 – 1903 Elizabeth J. Phillips mendesign sebuah game untuk memberikan gambaran tentang “Georgism” satu konsep ekonomi yang menekankan pentingnya pajak atas (sewa) lahan/tanah untuk keadilan sosial. Gamenya berjudul “The Landlord’s Game”. Konsep game ini kemudian kita kenal sebagai “Monopoli” pada masa kini.

https://www.nytimes.com/2015/02/15/business/behind-monopoly-an-inventor-who-didnt-pass-go.html

Dari definisi yang sudah kita bahas sebelumnya: game sesungguhnya adalah ruang untuk kita melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang yang beda. Game adalah sebuah lab untuk kita melakukan banyak eksperimen. Game adalah berbagai aktivitas dimana kita terlibat secara sukarela dan gembira untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Karena itu semua proses pembelajaran berbasis-game (Game-Based Learning) bukanlah sesuatu yang baru. Hal yang sudah dilakukan sejak lama dan terus berkembang. Banyak penelitian juga membuktikan efektivitas dari proses pembelajaran berbasis game untuk peningkatan kualitas pendidikan. World Economic Forum bahkan merekomendasikan pendekatan ini sebagai pendekatan pembejaran untuk melatih 21st century skills.

Mungkin saat ini yang perlu sama-sama kita tanyakan adalah: Sudah siapkah kita mengoptimalkan potensi game di Indonesia? Jika kita masih terus beranggapan game hanya sebagai komoditi hiburan semata, menghadirkan pembelajaran berbasis game untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Indonesia – hanya akan jadi mitos belaka.

(Image source: WikiCommons)

Leave a Reply