“Jadi caranya gini pam, pampam harus tebak kartu-kartu ini, gambarnya lagi tidur atau lagi bangun. Kita mainnya gantian ya! Klo salah nanti kita masukin lagi ke bawah. Mainnya 3x, nanti yang banyak dapat logo piala ya! Pampam ngerti khan?” Suatu siang di gerbong makan perjalanan Gambir-Bandung tuan putri menjelaskan konsep gamenya. Saya hanya bisa terpana, bangga, bahagia. Saat itu, saya menjadi murid yang bahagia.

Teknologi saat ini telah mengubah banyak hal, termasuk proses belajar. Accenture (sebuah konsultan internasional) bahkan baru-baru ini meliris laporan khusus tentang pergeseran konsep pembelajaran (terutama di corporatelearning), salah satu rekomendasinya adalah untuk speedup experiential learning. Konsekuensi langsung dari experiental learning adalah mentransformasi setiap ruang belajar jadi ruang riset – sehingga peran guru dan murid tidak lagi relevan, karena semua saling berkontribusi.

Untuk itu, organisasi yang hanya berfokus pada proses pembelajaran dengan mengandalkan ‘persona’ satu guru/dosen/trainer/expert di setiap sesinya, tanpa memberi ruang untuk experiential learning atau dalam versi sederhana sebuah game-based learning, kemungkinan akan semakin sulit untuk bisa relevan. Hal ini berlaku di setiap learning organization, dari level keluarga hingga corporate learning.

Apa kemudian dampaknya? Learning process akan jadi proses yang semakin strategis, semakin penting, dan semakin terbuka. Mereka yang benar-benar coba menghadirkan proses learning yang baik, bukan sekedar menawarkan gimmick, akan semakin menarik.

“Terus apa hubungannya dengan orang seperti kita-kita ini mas? Yang kelas sarapannya masih kopi sachet dan gorengan?”

“Artinya anak-anak kita mungkin akan punya kesempatan belajar yang lebih luas, lebih baik dari kita. Asal kita tidak pernah ragu untuk memberikan ruang tersebut ke mereka dan senantiasa sadar bahwa kita, orang tua juga harus selalu belajar bersama mereka. Sambil ngopi2 ditemani gorengan juga biasanya lebih seru.”

Leave a Reply